Apa yang akan terjadi jika kamu bisa mewujudkan fantasimu? Bahkan yang terliar sekali pun.
Kira-kira itulah pertanyaan yang memicu semua yang terjadi di Fantasy Island.
Tampilkan postingan dengan label Movie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Movie. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 19 September 2020
Selasa, 20 September 2016
Spy In Love: Kisah Cinta Ala Mata-Mata
DISCLAIMER: Spoiler Alert
Kisah cinta seorang mata-mata memang selalu menarik untuk diangkat menjadi sebuah film. Namun sayangnya film Indonesia masih jarang yang mengangkat tema percintaan dengan latar belakang aksi dunia spionase. Film dari penulis naskah dan sutradara Daniel Rifki menawarkan jenis film tersebut. Film yang melibatkan pemain dan setting dari dua negara yaitu Indonesia dan Malaysia ini memang hendak mengincar penonton dari kedua negara.
Selain pemain lintas negara, film ini juga menampilkan para pemeran lintas generasi. Ray Sahetapi sebagai Satria dipasangkan dengan aktor muda yang menjanjikan Hamish Daud sebagai Putra menjadi para pemeran pria dari Indonesia. Sedangkan para aktris dari negeri jiran yang bermain dalam film ini adalah Siti Saleha sebagai Pevita dan Nasha Aziz sebagai Farida.
Film ini mengisahkan tentang sepasang kekasih berasal dari dua negara, Putra dan Pevita yang saling mencinta dan mengundang orang tua mereka ke Penang untuk meminta restu bagi pernikahan mereka. Putra mengundang Opanya, Satria. Sedangkan Pevita mengundang Mamanya, Farida.
Secara kebetulan Satria juga sedang menangani sebuah kasus yang petunjuknya mengarah kepada lokasi tempat Putra dan Farida bekerja, di Penang.
Pertemuan kedua orang tua ini tidak berlangsung dengan baik, penuh kecurigaan dan salah sangka. Kecurigaan dan salah sangka terus berlanjut sehingga kedua orang tua tersebut semakin tidak setuju dengan rencana pernikahan Putra dan Pevita. Namun ternyata penyelidikan terhadap kasus yang ditangani oleh Satria berkembang dan dia pun terjebak pada situasi yang terpaksa melibatkan Farida.
Bagaimanakah akhir dari pemecahan kasus tersebut dan nasib rencana pernikahan Putra dan Pevita? Saksikan secara lebih lengkap di layar bioskop, film ini akan tayang pada tanggal 29 September 2016.
Minggu, 27 Maret 2016
(Movie Review) Batman V Superman, Satu Film, Beberapa Komik.
Disclaimer: akan ada beberapa spoiler dalam tulisan ini jadi tidak disarankan membaca bagi mereka yang lemah terhadap spoiler.
Seri kedua dari Superman garapan Zack Snyder sedemikian menggemparkan namun juga mengkhawatirkan. Pasalnya adalah sudah terlalu banyak yang disajikan dalam berbagai trailer yang beredar. Sehingga saya dan beberapa kawan berprasangka apalagi yang diharapkan ada dalam film ini.
Sejak kesuksesan Zack dalam menggarap Man Of Steel (setidaknya sukses membuat saya puas dengan berbagai detail dan easter eggs yang muncul pada film itu) harapan saya untuk film ini cukup tinggi. Namun sebagaimana banyak harapan lainnya. Saya sempat merasa kecewa saat pertama kali menonton Batman V Superman: Dawn Of Justice. Namun saya bukan tipe orang yang kalau sudah tidak suka ya saya biarkan diri saya dalam ketidaksukaan, jadi saya memutuskan untuk menonton sekali lagi film Batman V Superman sebelum memutuskan untuk membuat review tentang film ini.
SETELAH NONTON PERTAMA KALI:
Saat pertama kali menonton #BatmanVSuperman saya merasa amat bosan pada setengah film pertama. Banyak adegan bertele-tele yang disajikan. Dan saya sedemikian kecewa pada Batman yang sering menggunakan pistol dan tak pernah menggunakan utility belt andalannya. Memang Batcar dibuat sedemikian tangguh dengan persenjataan canggih, sehingga bahkan ada heat missiles untuk meledakkan misil yang diluncurkan lawan.
Saat pertama kali menonton, film ini terasa sedemikian surealis, Bruce Wayne seringkali bermimpi. Mimpi buruk tentunya. Kebiasaan Bruce Wayne untuk berlatih pun tidak diperlihatkan sampai tiba saat menjelang pertarungan dengan Superman (Berbeda dengan Batman versi Nolan di mana setiap habis bangun tidur Bruce Wayne selalu melakukan push 100x - atau 1000x?). Tapi ya ini adalah filmnya Superman, bukan filmnya Batman. Keberadaan Batman di sini hanyalah pelengkap.
Beberapa hal yang saya senang saat pertama kali menonton adalah adanya beberapa adegan yang yang tampak seperti pada komik (dan animasi serta game). Sebagai pria yang pernah menghabiskan masa kanak-kanak berjam-jam main SEGA dengan kaset The Death And Return Of Superman saya sangat kegirangan melihat kemunculan DoomsDay terutama saat adegan dia membunuh Superman.
SETELAH MENONTON KEDUA KALI:
Menjelang nonton untuk kedua kali, sebenarnya ada perasaan enggan untuk menyaksikan beberapa hal yang tak sesuai ekspektasi saya. Namun biarlah rasa enggan menguap ke angkasa lenyap membaur bersama komposisi udara. Saat menyaksikan film ini untuk kedua kali mental saya sudah lebih siap. Dan ternyata benar, dialog-dialog di awal yang anggap bertele-tele, ternyata banyak substansi dan penanda di dalamnya.
Adegan kelahi Superman dan Batman ini sangat menggambarkan adegan dari The Dark Knight Returns, pun adegan Superman 'bermuka zombie' setelah terkena ledakan nuklir dan kembali menjadi sehat setelah mendapat pancaran sinar mentari. Adegan dalam mimpi Batman pun menjadi sebuah hiburan tersendiri. Komplain saya tentang detail yang kurang diperhatikan langsung berbalik 180 derajat. Di sini saya melihat detail yang ditampilkan. Sebagai penggemar Batman tentu tahu ada beberapa universe dan kostum Batman yang ada, setidaknya ada tiga kostum yang ditampilkan di sini. Dan itu sangat menyenangkan. :)
Selain itu adalah beberapa hal menyenangkan lainnya. Beberapa adegan mengingatkan pada film WATCHMEN (http://www.imdb.com/title/tt0409459/) yang merupakan film Superhero favorit saya yang juga adalah garapan si jenius Zack Snyder. Dalam film WATCHMEN ada dialog "Superman is Real and he's American. No, God is Real and he's American" dan di film BVS ini tuduhan utama terhadap Superman adalah False God. Lagi-lagi Snyder bermain dengan pertanyaan terhadap konsep eksistensi dan konsep ketuhanan melalui film Superhero.
Selain itu, yang semakin menyenangkan dari film ini adalah: WONDER WOMAN. Bukan hanya karena WW diperankan oleh Gal Gadot (my goddess) yang super cantik, tapi lebih pada karakter WW yang ditampilkan. Walau saat awal-awal karakter ini terlihat 'Cat-Woman'-ish dari film The Dark Knight Rises, namun saat memakai armor, semua berubah. Dari dialog "I used to deal with some beasts from another dimensions" hingga senyum yang terpampang saat Wonder Woman dilempar, dipukul dan terseret jatuh oleh DoomsDay (yang seakan menggambarkan WW sedang bermain dengan peliharaannya - sangat berbeda dengan wajah tegang Batman dan Superman - atau mungkin mereka berdua tegang bukan karena DoomsDay tapi karena...ah sudahlah).
Last but not least, the ultimate human-enemy of Superman: Alexander Luthor a.k.a Lex Luthor. Menjadi sebuah kenikmatan tersendiri melihat psikopat kaya raya diperankan oleh aktor yang pernah memerankan seorang milyarder yang agak anti-sosial namun sukses membuat media sosial terbesar hingga saat ini. Walaupun karakter dari Lex Luthor ini digambarkan agak-agak Joker-ish namun tetap menarik.
Pada film Man of Steel, Zack Snyder memberikan penanda akan kehadiran Lex Luthor dan Bruce Wayne. Pada beberapa adegan perkelahian antara Superman dan General Zod menggunakan truk dan menghancurkan beberapa bangunan dari LEXCORP. Perkelahian tersebut juga telah menghancurkan salah satu (atau beberapa) gedung milik WAYNE ENTERPRISE (dan di gedung tersebut ada poster KEEP CALM AND CALL BATMAN). Dan adegan paling saya suka di MAN OF STEEL adalah adegan berantem timpuk-timpukan menggunakan satelit di angkasa. Satelitnya milik siapa? Tentunya milik WAYNE ENTEPRISE.
Pada film #BatmanVSuperman ini Snyder juga memanjakan para fans dengan penanda (atau Easter Eggs) dari seri selanjutnya dari film Superman ini. Selain penanda yang jelas tentang akan hadirnya The Flash, Aquaman, dan Cyborg, juga ada penanda seperti muncul karakter dari masa depan yang interupsi dan menyampaikan pesan ke Batman "You have to find us. Am I too soon?" (so far tokoh Justice League yang bisa time travelling hanya The Flash). Kemudian ada beberapa hal yang disampaikan oleh Lex seperti "The Devil comes from Above" dan "The bell has been rung, it cannot be un-rung". Siapakah musuh besar Superman yang merasa terpanggil akibat kematian DoomsDay dan Superman. Apakah Darkseid? Parasite? Metallo? Atau mungkin Bizzaro? Lobo? Atau bahkan para 'pengganti' Superman seperti Superman Cyborg, Eradicator, dan Steel? Kita tunggu saja besutan Zack Snyder di seri Superman selanjutnya.
Seri kedua dari Superman garapan Zack Snyder sedemikian menggemparkan namun juga mengkhawatirkan. Pasalnya adalah sudah terlalu banyak yang disajikan dalam berbagai trailer yang beredar. Sehingga saya dan beberapa kawan berprasangka apalagi yang diharapkan ada dalam film ini.
Sejak kesuksesan Zack dalam menggarap Man Of Steel (setidaknya sukses membuat saya puas dengan berbagai detail dan easter eggs yang muncul pada film itu) harapan saya untuk film ini cukup tinggi. Namun sebagaimana banyak harapan lainnya. Saya sempat merasa kecewa saat pertama kali menonton Batman V Superman: Dawn Of Justice. Namun saya bukan tipe orang yang kalau sudah tidak suka ya saya biarkan diri saya dalam ketidaksukaan, jadi saya memutuskan untuk menonton sekali lagi film Batman V Superman sebelum memutuskan untuk membuat review tentang film ini.
SETELAH NONTON PERTAMA KALI:
Saat pertama kali menonton #BatmanVSuperman saya merasa amat bosan pada setengah film pertama. Banyak adegan bertele-tele yang disajikan. Dan saya sedemikian kecewa pada Batman yang sering menggunakan pistol dan tak pernah menggunakan utility belt andalannya. Memang Batcar dibuat sedemikian tangguh dengan persenjataan canggih, sehingga bahkan ada heat missiles untuk meledakkan misil yang diluncurkan lawan.
Saat pertama kali menonton, film ini terasa sedemikian surealis, Bruce Wayne seringkali bermimpi. Mimpi buruk tentunya. Kebiasaan Bruce Wayne untuk berlatih pun tidak diperlihatkan sampai tiba saat menjelang pertarungan dengan Superman (Berbeda dengan Batman versi Nolan di mana setiap habis bangun tidur Bruce Wayne selalu melakukan push 100x - atau 1000x?). Tapi ya ini adalah filmnya Superman, bukan filmnya Batman. Keberadaan Batman di sini hanyalah pelengkap.
Beberapa hal yang saya senang saat pertama kali menonton adalah adanya beberapa adegan yang yang tampak seperti pada komik (dan animasi serta game). Sebagai pria yang pernah menghabiskan masa kanak-kanak berjam-jam main SEGA dengan kaset The Death And Return Of Superman saya sangat kegirangan melihat kemunculan DoomsDay terutama saat adegan dia membunuh Superman.
| Bat-Armor yang memang didesain oleh Bruce Wayne untuk melawan Superman |
![]() |
| Perkelahian Superman dengan Batman yang diangkat dari komik dan animasi The Dark Knight Returns |
SETELAH MENONTON KEDUA KALI:
Menjelang nonton untuk kedua kali, sebenarnya ada perasaan enggan untuk menyaksikan beberapa hal yang tak sesuai ekspektasi saya. Namun biarlah rasa enggan menguap ke angkasa lenyap membaur bersama komposisi udara. Saat menyaksikan film ini untuk kedua kali mental saya sudah lebih siap. Dan ternyata benar, dialog-dialog di awal yang anggap bertele-tele, ternyata banyak substansi dan penanda di dalamnya.
Adegan kelahi Superman dan Batman ini sangat menggambarkan adegan dari The Dark Knight Returns, pun adegan Superman 'bermuka zombie' setelah terkena ledakan nuklir dan kembali menjadi sehat setelah mendapat pancaran sinar mentari. Adegan dalam mimpi Batman pun menjadi sebuah hiburan tersendiri. Komplain saya tentang detail yang kurang diperhatikan langsung berbalik 180 derajat. Di sini saya melihat detail yang ditampilkan. Sebagai penggemar Batman tentu tahu ada beberapa universe dan kostum Batman yang ada, setidaknya ada tiga kostum yang ditampilkan di sini. Dan itu sangat menyenangkan. :)
Selain itu adalah beberapa hal menyenangkan lainnya. Beberapa adegan mengingatkan pada film WATCHMEN (http://www.imdb.com/title/tt0409459/) yang merupakan film Superhero favorit saya yang juga adalah garapan si jenius Zack Snyder. Dalam film WATCHMEN ada dialog "Superman is Real and he's American. No, God is Real and he's American" dan di film BVS ini tuduhan utama terhadap Superman adalah False God. Lagi-lagi Snyder bermain dengan pertanyaan terhadap konsep eksistensi dan konsep ketuhanan melalui film Superhero.
Selain itu, yang semakin menyenangkan dari film ini adalah: WONDER WOMAN. Bukan hanya karena WW diperankan oleh Gal Gadot (my goddess) yang super cantik, tapi lebih pada karakter WW yang ditampilkan. Walau saat awal-awal karakter ini terlihat 'Cat-Woman'-ish dari film The Dark Knight Rises, namun saat memakai armor, semua berubah. Dari dialog "I used to deal with some beasts from another dimensions" hingga senyum yang terpampang saat Wonder Woman dilempar, dipukul dan terseret jatuh oleh DoomsDay (yang seakan menggambarkan WW sedang bermain dengan peliharaannya - sangat berbeda dengan wajah tegang Batman dan Superman - atau mungkin mereka berdua tegang bukan karena DoomsDay tapi karena...ah sudahlah).
| Peran Wonder Woman yang cukup dominan dalam melawan DoomsDay menjadi hiburan tersendiri. |
Last but not least, the ultimate human-enemy of Superman: Alexander Luthor a.k.a Lex Luthor. Menjadi sebuah kenikmatan tersendiri melihat psikopat kaya raya diperankan oleh aktor yang pernah memerankan seorang milyarder yang agak anti-sosial namun sukses membuat media sosial terbesar hingga saat ini. Walaupun karakter dari Lex Luthor ini digambarkan agak-agak Joker-ish namun tetap menarik.
![]() |
| Lex Luthor yang dialognya penuh dengan 'penanda' |
Pada film #BatmanVSuperman ini Snyder juga memanjakan para fans dengan penanda (atau Easter Eggs) dari seri selanjutnya dari film Superman ini. Selain penanda yang jelas tentang akan hadirnya The Flash, Aquaman, dan Cyborg, juga ada penanda seperti muncul karakter dari masa depan yang interupsi dan menyampaikan pesan ke Batman "You have to find us. Am I too soon?" (so far tokoh Justice League yang bisa time travelling hanya The Flash). Kemudian ada beberapa hal yang disampaikan oleh Lex seperti "The Devil comes from Above" dan "The bell has been rung, it cannot be un-rung". Siapakah musuh besar Superman yang merasa terpanggil akibat kematian DoomsDay dan Superman. Apakah Darkseid? Parasite? Metallo? Atau mungkin Bizzaro? Lobo? Atau bahkan para 'pengganti' Superman seperti Superman Cyborg, Eradicator, dan Steel? Kita tunggu saja besutan Zack Snyder di seri Superman selanjutnya.
Jumat, 19 Februari 2016
(Review) A Copy of My Mind - The Devil is In The Detail, so is The Beauty
Sampai dengan tulisan ini dibuat, saya sudah lima kali menonton film ini. Dua kali saat premiere dan tiga kali setelah film ini tayang di bioskop-bioskop kesayangan anda (walau mungkin anda bukan kesayangan bioskop). Saya pun hendak menonton film ini setidaknya dua hingga tiga kali lagi. Mungkin pertanyaan yang akan timbul atas pernyataan saya pada kalimat sebelum kalimat ini adalah: "Kenapa?" Dan jawaban dari pertanyaan tersebut akan dijelaskan pada beberapa paragraf di bawah ini.
Saat pertama kali menonton film besutan Bang Joko Anwar ini, sayamelihat sangat menikmati bangunan adegan dalam cerita yang sangat rapih namun tetap terlihat alami. Beberapa adegan yang terjalin oleh riuh suasana, di adegan lain adegan terbangun oleh sunyi, dan tampilan wujud dan simbol yang sekilas sederhana namun sarat dengan makna yang sublim. Sederhanya bisa dibilang film ini: "Simple tapi Dalem"
'Hotness Overload', frase tersebut juga menjadi sesuatu yang menggambarkan salah satu daya tarik (utama) dari film yang dibintangi oleh Chicco dan Tara ini. Adegan percintaan yang sangat wajar dan manusiawi namun justru jadi sangat panas. 'Adegan panas' ini tidak terjadi di hotel mewah dengan taburan bunga-bunga. Namun kejadian berbagai adegan romansa terjadi di kamar kos (yang lebih besar dari kamar saya ternyata. envy!) dengan komposisi ruangan khas pecinta film (baca: tukang terjemah DVD bajakan).
Selain kesederhanaan dan panasnya aksi romansa, satu hal yang paling utama yang menarik hati untuk berkali-kali menonton film ini adalah DETIL yang luar biasa. Ya, seperti subjudul dari tulisan ini. Detil yang luar biasa dan menjadikannya indah. Sampai-sampai saya merasa takut ada detil yang terlewat sehingga harus menonton berkali-kali. Detil seperti: anak muda trek-trekan, rombongan iring-iringan moge, pengamen buta, partisan bayaran kampanye yang uangnya kurang, kucing ngulet (salah satu favorit saya), dan juga (ini yang paling saya suka) keringat di dahi para pemain saat bangun pagi. Adegan bangun pagi ini merupakan KOENTJI (selain adzan yang seringkali bersahut-sahutan menimpali adegan hot). Saat menyaksikan adegan para pemain bangun pagi dengan peluh memenuhi wajah mereka, saya merasa sangat relate dan teringat masa lalu saat di kamar yang tidak ber-AC. Adegan bangun ini yang sering menjadi kritik pada film-film (terutama film Indonesia) yang sering menyajikan tampilan bangun pagi tapi sudah full make up dan terlihat cantik. Di film ACOMM ini adegan yang akan kamu lihat adalah adegan orang bangun yang memang apa adanya. Muka bantal.
Detil yang dibangun bukan sekadar dari segi bangunan cerita dan visual, namun juga berbagai macam suara yang disuguhkan (belakangan saya tahu bahwa untuk film ini lebih dari 20 track dibuat untuk mengisi suasana lingkungan tempat para pemain berada). Berbagai suara yang hadir seperti suara ketok-ketok abang bakso, suara tukang roti, suara enci-enci marah, dan suara siaran radio (oh gw mau banget ngisi ini) dan masih banyak lagi.
Film dengan premis sederhana ini pun dengan cantik mampu bermain dengan semiotika dan simbol serta berbagai pesan sublim (maupun frontal) terhadap kondisi perpolitikan, sosial, budaya, dan kemasyarakatan. ACOMM bukan tipe film yang menjual mimpi, namun jenis film yang memberikan penyadaran (bahwa penjahat juga butuh nabung 6 tahun tapi masih belum bisa beli rumah, dan penyadaran lainnya) tentang hidup dan kehidupan kaum menengah ke bawah dengan mimpi sederhana namun tantangan yang luar biasa. Terakhir, meminjam kata-kata dalam tweet mas @newsplatter film ini tentang maling-maling kecil, digilas maling-maling besar.
Saat pertama kali menonton film besutan Bang Joko Anwar ini, saya
'Hotness Overload', frase tersebut juga menjadi sesuatu yang menggambarkan salah satu daya tarik (utama) dari film yang dibintangi oleh Chicco dan Tara ini. Adegan percintaan yang sangat wajar dan manusiawi namun justru jadi sangat panas. 'Adegan panas' ini tidak terjadi di hotel mewah dengan taburan bunga-bunga. Namun kejadian berbagai adegan romansa terjadi di kamar kos (yang lebih besar dari kamar saya ternyata. envy!) dengan komposisi ruangan khas pecinta film (baca: tukang terjemah DVD bajakan).
Selain kesederhanaan dan panasnya aksi romansa, satu hal yang paling utama yang menarik hati untuk berkali-kali menonton film ini adalah DETIL yang luar biasa. Ya, seperti subjudul dari tulisan ini. Detil yang luar biasa dan menjadikannya indah. Sampai-sampai saya merasa takut ada detil yang terlewat sehingga harus menonton berkali-kali. Detil seperti: anak muda trek-trekan, rombongan iring-iringan moge, pengamen buta, partisan bayaran kampanye yang uangnya kurang, kucing ngulet (salah satu favorit saya), dan juga (ini yang paling saya suka) keringat di dahi para pemain saat bangun pagi. Adegan bangun pagi ini merupakan KOENTJI (selain adzan yang seringkali bersahut-sahutan menimpali adegan hot). Saat menyaksikan adegan para pemain bangun pagi dengan peluh memenuhi wajah mereka, saya merasa sangat relate dan teringat masa lalu saat di kamar yang tidak ber-AC. Adegan bangun ini yang sering menjadi kritik pada film-film (terutama film Indonesia) yang sering menyajikan tampilan bangun pagi tapi sudah full make up dan terlihat cantik. Di film ACOMM ini adegan yang akan kamu lihat adalah adegan orang bangun yang memang apa adanya. Muka bantal.
Detil yang dibangun bukan sekadar dari segi bangunan cerita dan visual, namun juga berbagai macam suara yang disuguhkan (belakangan saya tahu bahwa untuk film ini lebih dari 20 track dibuat untuk mengisi suasana lingkungan tempat para pemain berada). Berbagai suara yang hadir seperti suara ketok-ketok abang bakso, suara tukang roti, suara enci-enci marah, dan suara siaran radio (oh gw mau banget ngisi ini) dan masih banyak lagi.
Film dengan premis sederhana ini pun dengan cantik mampu bermain dengan semiotika dan simbol serta berbagai pesan sublim (maupun frontal) terhadap kondisi perpolitikan, sosial, budaya, dan kemasyarakatan. ACOMM bukan tipe film yang menjual mimpi, namun jenis film yang memberikan penyadaran (bahwa penjahat juga butuh nabung 6 tahun tapi masih belum bisa beli rumah, dan penyadaran lainnya) tentang hidup dan kehidupan kaum menengah ke bawah dengan mimpi sederhana namun tantangan yang luar biasa. Terakhir, meminjam kata-kata dalam tweet mas @newsplatter film ini tentang maling-maling kecil, digilas maling-maling besar.
Minggu, 27 Desember 2015
(resensi film) 3 - Alif Lam Mim
"Ini film kerennya kebangetan"
itu adalah pikiran yang berkecamuk sepanjang saya menonton film ini. Namun sayang, seperti beberapa film Indonesia bagus yang lain, di bioskop hanya terdapat sedikit penonton.
Jujur, ekspektasi saya saat hendak menonton film ini cukup tinggi. Entah ekspektasi atas tawaran konflik yang disajikan, maupun ekspektasi akan keaktoran para pemeran yang beberapa di antaranya adalah aktor favorit saya seperti Abimana dan Agus Kuncoro.
itu adalah pikiran yang berkecamuk sepanjang saya menonton film ini. Namun sayang, seperti beberapa film Indonesia bagus yang lain, di bioskop hanya terdapat sedikit penonton.
Jujur, ekspektasi saya saat hendak menonton film ini cukup tinggi. Entah ekspektasi atas tawaran konflik yang disajikan, maupun ekspektasi akan keaktoran para pemeran yang beberapa di antaranya adalah aktor favorit saya seperti Abimana dan Agus Kuncoro.
Film dibuka dengan perjalanan paparan dan cuplikan media dari saat ini (2015) menuju ke waktu ketika cerita ini berlangsung di tahun 2050an. Di film ini digambarkan, pada tahun 2050an Jakarta (dan Indonesia?) sudah menjadi sebuah negara liberal. Pada tahun tersebut juga digambarkan bahwa orang Jakarta sudah merasa malu beragama. Konflik dimulai saat Alif, yang dimainkan oleh Cornelio Sunny melakukan penyergapan namun Target Operasi terbunuh sehingga Alif mendapatkan hukuman.
Adegan kemudian berlanjut dengan pola mundur menggambarkan Alif dengan kedua sahabatnya Lam dan Mim, di masa lalu, saat menuntut ilmu di pondok.
Langganan:
Postingan (Atom)




