Minggu, 21 Desember 2014

(Review Teater) KOCAK KACIK oleh EL NAMA:

Sebenarnya ini adalah kali kedua saya menyaksikan pementasan KOCAK KACIK oleh EL NAMA. Yang pertama adalah pada acara yang diadakan di Bengkel Teater Rendra. Pada sebuah panggung yang sedemikian dekat dengan penonton dan ruang duduk yang tidak begitu nyaman. Sangat berbeda dengan gedung pementasan Teater Kecil di Taman Ismail Marzuki. Tempat Teater El Nama menampilkan KOCAK KACIK dalam rangkaian acara Final Festival Teater Jakarta, pada hari rabu 10 Desember 2014 yang lalu.








Naskah Kocak Kacik dibawakan oleh Teater El Nama dengan konsep dan ke-khasan tersendiri. Dengan menggunakan seting artistik yang sederhana, namun tepat dan kaya guna, serta tentunya menarik. Pola permainan sangat berpotensi untuk memiliki ledakan dari kreativitas yang ditawarkan. Sayang, kejutan-kejutan yang terasa menyenangkan pada pementasan di Bengkel Teater Rendra, menjadi kurang 'greget' lagi saat dipentaskan di Teater Kecil. Karena mungkin terdapat beberapa perbedaan kontekstualitas, penggunaan properti yang mendukung, serta pembawaan pemain yang berbeda.

Senin, 08 Desember 2014

(Review Teater) NYELONCONG - karena korupsi itu tindakan kurang ajar

Tema sosial hampir selalu menjadi tema utama dalam sebuah pementasan teater realis. Tema tersebut umumnya menawarkan kekuatan pada karakter-karakter realis dengan hasil observasi mendalam terhadap setting sosial beserta berbagai atribut konflik di dalamnya.

FAKSI 2014 atau Festival Anti Korupsi 2014 yang diselenggarakan oleh KPK menghadirkan 10 Teater pilihan untuk berpentas di GRJS Bulungan. Salah satu penampil merupakan perwakilan dari daerah Jakarta Barat bernama Teater Alamat. Dengan judul pementasan nyeloncong, Teater Alamat menghadirkan sebuah setting lingkungan di sebuah rukun warga lengkap dengan berbagai karakter warganya. 




Nyeloncong sendiri merupakan sebuah kata dari bahasa betawi yang berarti tidak sopan atau ngelunjak atau kurang ajar. Diawali dengan keresahan kolektif warga di sebuah wilayah tentang dana bantuan untuk membuat WC umum yang tidak jua turun, sedangkan program harus berjalan. Dialog berjalan dengan cukup alami sehingga membawa bangunan cerita secara naratif yang rapih. Keresahan warga yang meningkat dengan rumor-rumor bertumpuk tentang bagaimana mereka yang telah ditarik uang iuran untuk membuat WC umum, walau sebenarnya pembuatan WC akan dari uang anggaran negara.

Terdapat juga seorang tokoh dari sebuah LSM yang coba merasionalkan keresahan warga dengan memberikan arahan berpikir secara logis walau tetap tanpa pemaparan panjang lebar namun justru membuat warga tidak sabaran. Kemudian dimunculkanlah tokoh ibu lurah dengan staff nya yang menjadi 'pahlawan' dalam lakon ini. Baru di akhir cerita dimunculkanlah tokoh ketua RW yang bermasalah dan telah melakukan tindakan nyeloncong dengan menyelewengkan dana iuran warga untuk kepentingan diri sendiri.

Didukung dengan setting realis dengan perlakuan keluar masuk yang cukup tertata, permainan para aktor dan aktris cukup membangkitkan rasa dari sebuah lingkungan kecil. Pesan yang disampaikan cukup gamblang dengan permainan para aktor dan aktris yang menghayati karakternya masing-masing. Namun sayangnya ada beberapa dialog yang terlupa dan diulang, bukannya diimprovisasikan sebagaimana sehingga menjadi selayaknya dialog keseharian.

Teater yang masuk 3 besar dalam Festival Teater Jakarta 2013 ini dikenal dengan konsistensinya membawakan lakon-lakon dengan tema realis dan dengan dukungan setting yang serius. Permainan dan dialog pun diarahkan sealami mungkin sehingga dapat diterima terutama oleh awam. Melalui nyeloncong ini mungkin penulis naskah dan sutradara Teater Alamat, Budi Yasin, ingin menyampaikan pesan bahwa korupsi, tidak hanya terjadi di lapisan struktur para pejabat namun juga pada struktur masyarakat yang kecil. Dan juga nampaknya ingin disampaikan bahwa pemerintahan yang kini pun mendukung semangat baru, semangat transparansi dan kejujuran.

Tindakan korupsi pun ingin digambarkan bukan hanya sebagai tindakan yang melanggar hukum namun juga hal yang meresahkan, menjengkelkan dan tentunya: kurang ajar, nyeloncong.

Jumat, 14 November 2014

Rasa Enggan Mengangkasa

Setelah mengejawantah alam, diantarkan musim, dan sejenak menikmati eufoni
Akhirnya tiba jua pada cerau, lenguh semesta yang paling hakiki
Dari belantara rasa yang paling kacau, hingga paparan foton dari gemintang yang telah lama mati
Kutancapkan pesan berbentuk desau, bahwa segala yang telah mematuhi gravitasi
Enggan melayang ke angkasa kembali


Kecuali bunyi, dengan kecepatannya tak teringkari

Berbagai eksperimen terlaksana, berbagai postulasi terjadi


Dan juga benih benih perjalanan yang akan kita amini
Setelah puja dan doa terucap, maka usai adalah niscaya
Dan tanpa lebih banyak aksara bertebaran di sini
Maka izinkan duet ini
kuakhiri

Rabu, 12 November 2014

(Bunyi) Enggan Sunyi

Peluh meluruh, kau mengaduh, melenguh, berterpaan berpasang-pasang tubuh, sebagian lalu seluruh.

Suara menggema memekakkan, bukan rongga telinga, tapi rongga dada, bukan suara serupa bunyi, namun parade kejayaan menuju sunyi...
  
Dan aku terjerembab di jibaku paling kini, pada jarak memaku kaki di sini, di ujung batas paparan eufoni.

Emosi bereaksi bukan pada indera namun pada realitasnya sendiri. Sehingga bunyi selembut kapas jatuh terdengar bak gemuruh gunung berapi.

Lalu Hening...
Menjadi eufoni yang paling bening
Satu per satu sahutan merdu piano hingga fortississimos bersanding
Dengan attack dan decay dalam tempo berduet dan bertanding
Dalam balutan sustain berjatahan dengan release mendentum nyaring
Lalu kau-aku menjelma flute yang ditingkahi dub-step , now step and sing!

Dan kita mencumbui bunyi-bunyi pada jalur longitudinal, mencapai ekstase pada amplitudo dan eksistensi memencar di udara.

gemuruh dan bara tetap menyala di dada
Saat bermusim-musim gelagat eksploitasi rekan sebangsa
Semakin parah, semakin buatku jengah, semakin tanpa muka
Dan kemiskinan semakin dieksploitasi angka-angka

Saat aku memekik Merdeka
Jemari berpencar menuding mereka
Ada yang bermukim di tengah kita,
Rasa nyaman pada janji yang tak kunjung nyata
Dan perjuangan yang seakan tersia-sia
Juga saat musim janji-manis-tersebar-di-udara
Lalu bunyi menghantarku menjadi penyimak Efek Rumah Kaca

"Kamu tak berubah
 Selalu mencari celah
 Lalu semakin parah
 Tak ada jalan tengah"*

Musim berubah, walau kamu tak
Tak ada yang hendak bermukim, sungguh tak
Termasuk janjimu, pada kenyataan terserak
Dan kami hanya bisa mengulum sesak dengan gigi gemeretak

#DuetPuisi - tema: Eufoni

Senin, 10 November 2014

Tuhan dan ajaran

Kupelajari Tuhan, berbuku-buku
Kudapati penyembah, berkubu-kubu
Tak jarang mengaku jalankan ajaran Tuhan
Walau di jalanan Tuhan jarang dijajar-jajar pikiran
Sekumpulan manusia membela Tuhannya
Sebagian lagi merasa Tuhan tak perlu dibela
Keduanya merasa taat ajaranNya
ajaran Tuhan yang sama, atau Tuhan yang berbeda
Bermacam-macam Tuhan. Beragam-ragam ajaran
Tuhan satu, Tuhan esa. Tapi Tuhanku dan Tuhannya berbeda.
Tuhan dari alam dan isiNya
Tuhan dari Semesta, dwimesta, bahkan bermesta-mesta realitas
Terlalu banyak Tuhan, terlalu ragam ajaran didefinisikan
Dan takkan ada segala sesuatu tanpa Tuhan menciptakan
Begitu juga tulisan ini adalah ciptaan Tuhan.
Jadi sebenarnya aku adalah...

Musim (enggan) Bermukim

Memang,
Memang aku tak lagi hendak turun ke jalan
Meneriakkan yel-yel dan caci maki pada pemerintahan


Namun gemuruh dan bara tetap menyala di dada
Saat bermusim-musim gelagat eksploitasi rekan sebangsa
Semakin parah, semakin buatku jengah, semakin tanpa muka
Dan kemiskinan semakin dieksploitasi angka-angka



Ada yang bermukim di tengah kita,
Rasa nyaman pada janji yang tak kunjung nyata
Dan perjuangan yang seakan tersia-sia
Juga saat musim janji-manis-tersebar-di-udara

"Kamu tak berubah
 Selalu mencari celah
 Lalu semakin parah
 Tak ada jalan tengah"*

Lalu musim berubah, walau kamu tak
Tak ada yang hendak bermukim, sungguh tak
Termasuk janjimu, pada kenyataan terserak
Dan kami hanya bisa mengulum sesak dengan gigi gemeretak


(*cuplikan lagu #EfekRumahKaca - Mosi Tidak Percaya | #duetPuisi)

Jumat, 07 November 2014

Erupsi Enggan Berhenti

Kau minta aku untuk donasi?
Aku bergegas dan layani
yang kesulitan, kesusahan, saudara-saudari
desak pemimpin negeri untuk awas dan bermurah hati



Namun tahukah kau? erupsi enggan berhenti
Sebagaimana enggan usai hati yang kerap menanti
tunggu masa depan terukir dan masa lalu terlangkahi



Namun masa depan apa yang dibentuk oleh rangkaian bencana
Ketika manusia tak pahami saat alam bicara
Lalu berspekulasi apakah hanya  fenomena
Atau ada tersembunyi, tesirat makna


Kau suruh aku berdonasi? Tak usah kau suruh pun hati yang hidup kan tergerak sendiri
Oleh erupsi yang tak kunjung berhenti
Oleh derita saudara sebangsa yang mengiris hati


Kau ajak aku berdonasi? Maka mari
Karena apalah bahagia jika tak berbagi
Maka mari
Jangan tunda lagi

(Alam telah bersuara, saatnya tindakan kita pun bicara)

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

gambar diambil dari situs: batamtoday.com, wsj.net, viva.co.id

Rabu, 10 September 2014

Bising dalam Sepi

Saat makan siang tadi bersama beberapa kolega, ada pertanyaan yang dilontarkan kepadaku: "AL lu ada rencana pengen nikah ga?" kontan aku jawab "Ya iyalah", pertanyaan pun berlanjut "Kenapa pengen nikah?". Seperti halnya pertanyaan lain yang diawali kata kenapa, jawabannya diawali dengan kata "karena" dan diikuti dengan penjabaran yang berasal dari pertimbangan berdasarkan pengetahuan, pengalaman, maupun nilai-nilai yang diyakini. Dalam konteks jawaban tadi justru kolegaku yang bertanya, menjawab: "Menikah itu biar ada teman berbagi, dan biar ga kesepian." Kolegaku yang lain setuju. Aku bertanya dalam hati: "Benarkah?"

Malam sebelumnya, 9 September 2014, aku menyaksikan sebuah pertunjukan berjudul dinding tanpa relief (review menyusul). Ada sebuah dialog menarik yang kurang lebih kutangkap bunyinya seperti: "Pada akhirnya manusia tetap tidak bisa mengalahkan kesepiannya masing-masing."

Lagi-lagi tentang kesepian. Hal yang sangat jarang sekaligus terus menerus aku rasakan.

Karena aku tumbuh sebagai anak kecil yang introvert maka sepi menjadi niscaya. Semakin dewasa semakin kuamati bahwa sepi adalah teman sejati manusia yang justru hadir yang lain meninggalkan. Namun semenjak di bangku Sekolah Menengah Pertama sepiku tak lagi terisi hampa melainkan suara.

Semakin ke sini semakin banyak suara yang mengisi kepala di saat kesepian yang tersisa. Walaupun berbeda dengan bising di kala sepi dahulu yang berisi suara serupa teriakan. Kini suara bising lebih sering merupa bisik. Bisik yang saling bertumpuk dan mengalunkan bising dalam sepi.






Jumat, 29 Agustus 2014

Derap Rindu Dalam Dekap

Saat mereka bilang rindu
Aku berteriak memanggil tandu
kugotong sendiri hati yang sendu
gagal memadu

Lalu mereka teriak rindu
Namamu berderap bagai serdadu
Berderap deras dalam dekap yang tak hendak memintal jarak hingga berarak segala, terserak semua. Berlutut pada, dan tertundukan di hadapan...

Rindu.

Sajak Datang Akhir

Kadang ada saatnya sesuatu datang
Kadang ada saatnya sesuatu berakhir

Kadang akhir saatnya datang
Kadang datang saat akhirnya

Kadang pada saatnya datang berakhir
dan pada akhir datangnya saat

Pada saatnya

Akhir datang

----------------------------------------------------------------------------------------------------
*ditulis karena terlambat hadir di peluncuran buku puisi Joko Pinurbo*

Sabtu, 21 Juni 2014

MANGAP

Bahwa sesungguhnya kehidupan dimulai ketika mata berhenti terpejam
Bukan untuk terbelalak tapi untuk menatap
Bukan sekadar bergerak, pun tak melulu menetap

Jika jantung adalah penghulu detak
Maka mulut adalah suluh ucap hingga gemeretak
Segala yang terbuka akan menutup
Seperti semua yang terlepas dan terkatup

Namun anomali adalah niscaya
Silakan saksikan sendiri maka kau akan percaya

Organ tubuh yang kerap terbuka
Menghisap berbagai entitas belaka
Memuntahkan rangkaian kata
Kadang yang termuntahkan adalah kosong
adalah melompong
adalah nisbi yang melolong

Dan Tuhan kita Yang Maha Bercanda
pernah menjelma mangapmu yang menganga
Maka wajib untukmu bersyukur karena
Mangapmu tak mengundang serangga
'tuk masuk, beranak-pinak dan berumah tangga




ALnonim

Depok, Juni 2014
*puisi untuk selvia dan dibacakan oleh @andy_adalah di Malam Puisi Depok 21 Juni 2014*

Senin, 09 Juni 2014

Satu putaran untuk Bumi

Tak hendak rangkaian kalimat ini dibuka dengan ungkapan dekat dan personal
Pun sejauh jemari mengetik belum sampai pada tatap mata dan saling kenal
Namun tak jadi soal

Karena ucapan tak melulu tentang tahun yang kabarnya berulang
Kupastikan ucapanku tentang Ibunda semesta yang penuh kasih sayang

Agar dalam dekapNya engkau semakin bijaksana, bahagia, serta penuh karya yang gemilang
Dan di atas Bumi yang berputar mengelilingi pusat tata surya, Bumi yang kau terakan dalam mengisi kolom nama pun akan diputari berbagai macam peluang
Peluang untuk bahagia ketika derita, peluang untuk tetap tersenyum walau malang melintang.

Sekian saja ucapan saat satu putaran penuh planet ketiga penuhi hajatnya pada hari lahirmu
Maka lahirlah kembali setiap hari dalam hujan inspirasi yang menderas dari penamu.

Selamat Hari Lahir Bumi
Semoga engkau tetap membumi, walau kualitasmu sedemikian melangit.

Salam

-AL-

Minggu, 01 Juni 2014

Puisi Berantai Teater Kita

Detik yang berdetak seakan menggelitik
Berlalu sedikit demi sedikit
Sedih, tawa, dan senang yang kita rasakan
Kenangan-kenangan yang tak akan terlupakan
Sesuatu yang sangat membekas
Hari di mana semua akan terpisah
Mungkin ini tak akan terulang kembali
Angin berhembus membawa masa lalu
Hal-hal konyol yang kini menjadi memori
Masa di mana kita semua bersenda gurau
Kuratapi impianku dengan bintang-bintang
Untuk menghiasi langit malam dengan harapan
Karena air mengalir membawa masa depan

-------------------------------------------------------

*masih kurang dari Putri, Azzahra, Nafisah, Abriel, Tiwi, Adena, Ino, Bunga, dan Siti.*

Rabu, 07 Mei 2014

Sebelum 8 Mei

Sebelum aku terlelap dan menjelang 8 Mei tahun ini
Izinkan kusisipkan doa dalam nafasku bahwa akan pagi-pagi selanjutnya yang akan kulalui
Izinkan kuselipkan rasa syukur bahwa akan genap 29 tahun aku menjadi penghuni bumi
Izinkan cinta menjadi penggerak dari setiap langkah kaki

Maka sebelum 8 Mei tahun ini
Izinkan aku mengecup diriku sendiri, memaafkan dan berdamai di dalam pikiran dan hati

Selamat tidur...nanti kita menulis lagi

Rabu, 30 April 2014

B.U.R.U.H



"..dan karena peluh dan darah kami adalah bahan bakar, maka rodaroda ambisi dan gaya hidupmu dapat berputar"


Berabad sudah dan berabad akan keringat kami disuburkan kelaparan

Untuk kami sendiri adalah eksploitasi yang tak berkesudahan

Riuh rendah suara yang akan kami kobarkan hari ini pun semacam sudah dikomodifikasi

Usaha adalah upaya dengan bertubi keteguhan untuk sesuap dua suap nasi

Harapan menjadi asupan gizi, alat pelupa getir, dan endorfin paling asasi

--------------------------------------------------------------------------------------------------------

"Kepada dewa pemberi libur, jangan tujuan hari ini dibuat kabur,
menghimbau agar tidak turun ke jalan, melarikan semarak dari tujuan,"


-1 Mei 2010, 2014, 2018-

Jumat, 25 April 2014

[Movie Review] TRANSCENDENCE





'TRANSCENDENCE' sebuah implementasi visual

 'COGITO ERGO SUM'


Transcendence, film teranyar yang diperankan oleh aktor idaman ribuan wanita: Johnny Depp, merupakan film yang cukup diharapkan untuk menjadi fenomenal dalam konteks filosofis maupun teologis. Namun, beberapa ulasan di website menempatkan film Transcendence sebagai film yang tidak menarik. Bahkan pada situs rottentomatoes.com , yang sering dijadikan referensi untuk melihat 'kemenarikan' sebuah film apakah film itu 'fresh' atau 'rotten', menempatkan film Transcendence ke dalam kategori 'rotten'.

Film ini memang terasa lambat dan terlalu banyak mengeksploitasi visual dalam jarak dekat dan lambat. Bagi penonton awam hal ini sangatlah membosankan, walau secara sinematografis cukup memanjakan mata.

Namun ketika saya menonton film ini dan mengonsumsi paparan transendentalisme dalam balutan teknologi, saya seketika teringat dengan kata-kata mutiara terkenal dari seorang filsuf mahsyur, Descartes: COGITO ERGO SUM; "Aku berpikir maka aku ada."

Dalam film tersebut digambarkan bagaimana 'pikiran' adalah nyawa dari kehidupan. Tentang bagaimana tubuh yang mati namun pikirannya tetap terjaga, maka manusia bisa tetap 'hidup' dan bahkan 'menghidupkan' dengan 'pikiran'. Pikiran menjadi kunci dari transedensi.

Dalam film ini juga digambarkan betapa rasa takut menjadi ibu dari kejahatan (sebagaimana dikutip dari Film Star Wars episode III: Revenge of the Sith).  Rasa takut mengilhami manusia terhadap kegiatan-kegiatan ekstrem. Bahkan karena rasa takut, sebuah organisasi (yang mengaku sebagai organisasi) kemanusiaan tega menghabisi nyawa manusia. Karena sejatinya 'manusia takut pada apa yang tidak mereka mengerti', maka dibutuhkan hati yang berani untuk menyongsong 'peradaban baru'.

Cinta yang menjadi inti dari segala konflik yang terjadi di film ini disajikan dengan manis. Kebutuhan manusia yang saling mencintai untuk saling bersama digambarkan secara mendalam. Dalam kebersamaan yang tak hanya sebatas kebersamaan fisik saja. Karena cinta itu tentang jiwa, selain tentunya proses dan reaksi kimawi dalam tubuh kita.

Banyak perdebatan tentang eksistensi jiwa. Apakah manusia benar memiliki jiwa? Atau manusia hanya makhluk mekanis yang dipermainkan dinamika reaksi kimiawi yang biasa kita kenal dengan perasaan? Jujur saya pun bingung.

Sampai suatu ketika saya mendapat jawaban bahwa: "Kita tidak memiliki jiwa, tapi kita adalah jiwa yang memiliki tubuh." Dan jika jiwa dan pikiran adalah serupa, maka saya sangat mengamini tentang COGITO ERGO SUM, Aku berpikir maka aku ada, karena mungkin: "Kita tidak punya pikiran, kita adalah pikiran yang memiliki tubuh."







Jumat, 18 April 2014

Sesosok 7 Warna


August 25, 2009 at 1:45am

Gemuruh tangis angkasa meredup
Gelisah langit telah usai dan tertutup
Kini pancaran mentari yang terbias
lenguhkan segenap semesta tanpa batas

Sesosok cahaya berpendar
tatapannya paksa jantungku berdebar
selami ke dalam mencekik hepar hingga gemetar
kutertunduk, merunduk, menekuk, muntahkan sinar-sinar berpencar
merah,jingga,kuning,hijau mataku berkunang sukmakku menggelepar
biru,nila,ungu, lidahku kelu, pandangan terpaku, pada spektrum sinarmu menyebar

"you're impossible to find ..."

senandung pernah pakai mengalun wujudkan semburat sosokmu
sosokmu yang tersenyum, yang termenung, yang menghela nafas, yang tertawa lepas
sosokmu semburat 7 warna memapar eksistensi foton dalam quantum elektromagnetik
warna 7 sesosok mengonggok di tepian pandangan dan pemikiran tentang rasa yang menggelitik
7 warna dalam sesosok betina semacam kau sulitkanku menarik dan menghela nafas
senandung pernah pakai mengalun, selalu wujudkan semburat sosokmu

Aku hanya termangu menatap dalam tatapan matamu sepanjang hari
Dalam benak hanya mampu goreskan aksara hingga kata syairkan bahwa kau begitu berarti
Sosok sinarmu terdispersi ke dalam 7 warna ... karena bagiku kau pelangi

Senin, 14 April 2014

Bisnis Kendali Opini (versi puisi - bagian pertama)

Koar sana koar sini

Hidangan utama sarapan hingga makan malam kita adalah propaganda
dan multi-sosial-non-sosial-media menjadi kudapan setiap saat
tubuh-akal kita menggelambir disesaki arus-ekses-informasi
Hiper-realitas adalah niscaya, ketika yang kita lihat adalah sajian-sajian serupa

Ini adalah bisnis kendali opini, rumor adalah amunisi
Kematian karakter menjadi niscaya
Saat hanya topeng yang kau percaya


*some text missing*


Sekali lagi rumor adalah peluru liar, menyergap benak,
mematikan hening beribu jenak.
.

Selasa, 01 April 2014

Ucapan Selamat Malam

~satu lagi untuk dinda~

Selamat Malam, selamat berserah pada lelap dalam pelukan.
Selamat Malam, selamat istirahatkan raga dan pikiran.
Selamat Malam, walaupun senyummu saat lelap tetap secerah pagi
Selamat Malam, biar kuperhatikan gerak matamu di balik kelopak memicu-memacu mimpi

Selamat Malam, walaupun kita takkan pernah tahu rahasia apa saja yang digenggam tangan tersimpan di hati, terbawa mimpi, kadang ceriakan atau murungkan hari, lalu bermalam-malam bayang senyummu dalam lelap tetap lekat dalam ingatan, dalam guratan.

Semalam lamat-lamat kudengarkan hembus angin membisik rindu pada gemintang yang terusir polusi cahaya, pada senyap yang terusir polusi suara, pada udara yang terusir polusi udara.

Selamat Malam, walau ini sudah pagi...
Selamat Pagi, karena malam telah pergi...

Selamat Malam, tidurlah, karena mata sudah teramat rindu menatap erat-erat kelopak mata dari bagian dalam.

#S(Poem)taneousProject #Code6

Cintai Siapa?

Tak butuh puisi untuk mengungkapkan bahwa kita saling mencinta
Tak butuh alarm untuk bangunkan yang terpendam dalam rasa
Tak perlu bergelas-gelas kopi agar mata kita tetap terjaga
Tak perlu bergegas-gegas ungkapkan yang tersimpan rapih di dalam dada

Karena Kamu adalah Cinta pada diri sendiri, pada kenyamanan, pada kebersamaan
Sedang aku adalah butir-butir huruf yang tertulis pada paparan foton layar telepon di genggaman

Tak butuh puisi untuk mengungkapkan bahwa kita saling mencinta
Dan ini bukanlah puisi ungkapan cinta,
selain pada sosok yang setiap hari kita pandangi di dalam kaca

#S(poem)taneousProject #Code4


catatan: Diksi semakin pasaran mengurangi kenikmatan.

Yang halus dan perlahan meninggalkan

Kesedihan tak pernah gagal menjadi amunisi para pujangga
Walaupun kesedihan tak merupa bulir-bulir air mata
Walaupun kesedihan serupa hembus-hembus halus yang keluar semacam tanpa pertanda

Di hari para manusia banyak 'ngerjain' manusia lain
Seekor manusia yang sudah tak berekor mengharu biru
Ketika pergi dengan kendaraan dan pulang harus meninggalkan
Motor kesayangan yang ditinggalkan secara perlahan

Udara menghembus keluar pengisi rongga di roda merenda-kalut-yang enggan mereda

Bocor halus, katanya.
Kau pulang berjalan kaki saja, ungkapnya
Biarkan aku di sini semalam saja, ujar kendaraan beroda dua tanpa suara

Lalu ia, seekor wanita yang sudah tak berekor mengernyit dahi, mengumpulkan nyali
Berjalan pulang sembari merajut kesedihan bebani kepala hingga ujung jemari
Setelah doa dan caci terucap di mulut berganti-ganti
Maka satu kata pamungkasnya mengakhiri malam yang harus diakhiri:

BODOAMAT!

*ah tapi itu dua kata, tapi BODOAMAT!*

#S(Poem)taneousProject #Code3

#MulaiNgaco

Sajak Kata Ganti

Aku, Kamu, Kita
Terbahasakan proses memula cakap di tengah per dan an
Terbahanakan mula rasa dari tatapan meluruh ke senyuman

Aku, Kamu, Kita
"Dunia serasa milik berdua, yang lain ngontrak"
Entah sejak kapan frase tersebut menjadi relevan pada sepasang hati yang merangkai sajak?
Dua hati yang merangkai sajak katamu? Ya, Aku, Kamu, Kita adalah anak-anak sajak
Aku, Kamu, Kita adalah morfem terikat paling sering tertera dalam puisi-puisi cinta
Karena dia dan mereka adalah nestapa, dia dan mereka adalah neraka.

Dua hati yang merangkai sajak katamu? Bukankah hati kita sudah menyatu?

Mungkin, kataku pada kita, karena...
"kemungkinan tidak selalu jadi mungkin, karena ada dua kemungkinan dari sebuah kata kemungkinan yang pertama mungkin dan yang kedua tidak mungkin."

Permainan kata, permainkan rasa, perasaan bermain kata.

Aku, Kamu, Kita
Jika semua adalah permainan, lalu mengapa dua kata sebelumnya kau kukuhkan menjadi kata selanjutnya.

#S(Poem)taneousProject #Code2

Puisi untuk "A Name of None"

Entah sejak kapan hujan mulai menjelma percik
Di saat tetes mengalunkan gemericik
Tatap kita bertemu saling menggelitik

"Bukan kasta yang kita harus samakan,
Tapi isi kepala" kalimat itu kau tuliskan.
Lalu pada setiap pertemuan, dengan apa rindu kau bahasakan
Pertemuan tanpa temu adalah topeng yang kita kenakan
Sandiwara pada kehidupan, hidup pada kesandiwaran

Dan setiap akhir adalah mula baru bersirkular tak berkesudahan
Dan setiap perpisahan adalah perkenalan dua tangan yang tak lagi hendak bergenggaman.


#S(Poem)taneusProject #Code1

Rabu, 26 Maret 2014

Saat Puisi Bermalam

Sebuah gerakan berbasis kerinduan. Kerinduan pada ruang publik yang penuh apresiasi pada lautan kata-kata yang diucapkan, diperdengarkan. Kata-kata bersayap yang terbang tinggi-rendah mengapung-apung di benak dan perasaan. Gerakan itu (disadari atau tidak) menjadi (salah-satu) gerakan mengembalikan kemanusiaan pada jalan yang benar. Jalan keindahan.


Malam Puisi, sebuah wadah bagi para penikmat, penggemar, bahkan pecinta puisi. Termasuk saya, terutama saya. Saya sebagai salah satu dari sekian umat manusia yang menganggap diri tak lepas dari puisi (tergambar di antidentifikasi-puisidiri ) menyambut dengan sangat gembira terhadap gerakan yang menggembirakan ini. Tanpa pikir panjang segera setelah tahu bahwa Malam Puisi juga ada di kota saya, Depok, segera saya mengikutinya.

Puisi pertama yang saya baca di Malam Puisi adalah Puisi berjudul "KUCING" - salah satu puisi masyhur dari penyair yang dijuluki Mata Kiri perpuisian Indonesia: Sutardji Calzoem Bachri. Pada hari itu, Malam Puisi yang saya hadiri bertemakan "HUJAN KATA" seirama dengan kondisi Indonesia, terutama Jakarta dan sekitarnya yang tak henti-henti diguyur hujan, yang seringkali membangkitkan kerinduan, terhadap rindu itu sendiri.

Selain membacakan, pengalaman pertama itu juga sedemikian mengesankan melihat, mendengar, dan menyimak beberapa orang turut membacakan puisi dengan semangat dan ciri khas masing-masing. Menarik karena segera saya teringat pada sebuah film lawas berjudul "DEAD POET SOCIETY" yang juga bercerita tentang komunitas penikmat dan pecinta puisi.

Setelah saat pertama tersebut, muncul keinginan dan harapan saya untuk bisa lebih banyak mendalami kenikmatan dan menikmati kedalaman dalam berpuisi. Bersama wadah yang telah berkembang menjadi komunitas ini saya mengharapkan, kata-kata bersayap dapat menerbangkan kita pada ruang-ruang yang tak tercapai oleh budaya pop yang kian pragmatis seperti sekarang.

Puisi bagi saya lebih dari sekadar permainan kata. Puisi juga adalah kehidupan. Dan sebagaimana harapan saya pada kehidupan, harapan saya pada gerakan Malam Puisi agar selalu berubah ke arah kreativitas yang lebih baik, dinamis. Karena satu-satunya hal yang tetap dalam kehidupan adalah perubahan.

Salam Puisi

Senin, 03 Maret 2014

Serpihan Pikiran di Maret yang Kelaparan

Mengasing kekasih di garis edar
Rusak makna berbenih-benih enggan mekar

"lalu di mana jatah bahagiaku kau sembunyikan?" teriakmu pada suatu waktu di pikiranku

Sedemikian kusam senyum terpasang di parasmu
Sedemikian runyam raut dahaga terpasung di kerutku

Berbagai asumsi dibetot curiga, terus mencelot menerus pandang tanpa raga, tanpa dahaga, tanpa kata-apa

"lalu di mana kau sembunyikan pelajaran dari mereka yang meninggalkanmu dan kini berrumah tangga?" teriak pekat alam sadarku sadarkan alam bawah sadar sedari sadari bahwa kesadaran tak lain adalah penjaga garis edar

Kembali mengasing kami kehilangan mi tersubstitusi u, hingga bertukar tempat a dan u.

Berdiri sendiri.
Pecandu keterasingan.

Mengasingkan diri dari identitas masing-masing, memasang topeng-penuh-bopeng, karena kebenaran boleh jadi enggan mampir di sini.

Kedurhakaan para pengasing yang jua pengasih.

Lalu di hadapan duka kami menjadi duta dari sedak yang tertahan bahak di pelupuk wacana.

Di saat segala tertahan, air mata adalah bahan bakar kata, dan lapar kawanku, lapar itu pertanda.

Bahwa di bawah dada ada terletak lorong-lorong jelajahi-dan-cerna.

Dan tengkar kita dalam tentukan garis edar. Hanya relevan bagi dua hati yang bersimfoni, bersidebar.

Sabtu, 22 Februari 2014

Mula Baru

(dibacakan pada acara Untuk Ibnu, Ruang Rupa, Tebet Jakarta, 22/02/2014)

Kepada yang berpulang
Kuhaturkan doa berulang-ulang

Langit membuka mengucurkan tetes
Tetes menjelma deras menjelma telaga
Di sudut mata, di tepian telaga, bermuara di dada
Mendegupkan gugur bunga, mendetakkan senandung nestapa

Langit merupa tubuh semesta
Retak-retak angkasa serupa gemuruh jiwa
Lalu kabarnya angkasa memanggilmu kawan
Lalu debarmu memanggil angkasa untuk menjemputmu teman

Di antara ratap sejawat semoga engkau tersenyum senang
Derap karya dan karsamu tak hendak luput dari kenang
Lapis demi lapis ucap dan usap melambungkan harap agar kau tenang

Karena sungguh ini bukan berarti kau hilang
Bukan berarti henti segala makna yang kau ukir dalam juang

Kepada yang berpulang
Kami panjatkan doa berulang-ulang

Jakarta,22-02-2014



Jumat, 21 Februari 2014

[tulisan] Pleidoi Hujan



Keluh mewarnai harihari basah yang penuh kesah
Dari penghuni bumi yang dirundung musibah
Namun sejatinya langit bukanlah
Antagonis yang dikuasai amarah
Andai kalian mengerti, kami anakanak semesta

Sedemikian jengah kami dengan diasosiasikannya
tetestetes kami dengan romansa
semacam padupadan rasa
seperti buncahan yang tidak biasa

Sedemikian sering, jika kami datang hampiri planet ketiga dari matahari
Kalian coba imitasi tetes kami dengan hujan bulir katakata
Tapi ya itu semua ...

:::::puisi ini akan saya biarkan menggantung hingga musim hujan datang lagi:::::

30-Januari-2014

Kamis, 20 Februari 2014

Spoken Word Compilation

Sebuah Proyek Kompilasi spoken word dari sebuah Netlabel bernama Mindblast baru saja launching pada tanggal 14 Februari 2014 yang lalu. Event launchingnya pun - yang juga berlangsung secara online - diberi nama Download Party.



Terdapat 24 track di dalam album kompilasi tersebut. Kebetulan karya saya (yang sangat kurang persiapan) terdapat di dalam album kompilasi tersebut. Untuk mendengarkan bisa langsung didengarkan di sini .

Happy Listening.

Rabu, 19 Februari 2014

Tahu Diri

Bagiku, tahu diri adalah dasar dari Tawadhu. Tahu diri adalah akar dari Ikhlash, Sabar, dan Syukur. Mungkin tak perlu ilmu yang tinggi-tinggi, gelar berstrata-strata untuk memiliki sikap mental yang baik, cukup Tahu Diri. Karena sejatinya, tahu diri akan menjadi jurang pemisah antara diri dari hati yang tinggi, antara diri dari nafsu yang merajai.

Tahu diri, adalah kondisi di mana kita tak henti-henti berusaha mengenali diri. Berusaha agar terhindar dari self-overestimate dan self-underestimate. Dengan tahu diri kita tidak akan menuntut orang lain untuk lebih, tapi justru akan meningkatkan kualitas diri. Dengan tahu diri, kita tidak menjadi pribadi yang rutin menyalahkan, sebut saja, pemerintah atas kondisi bangsa dan negeri yang jauh dari sejahtera, melainkan melakukan perbaikan dari hari ke hari. Karena bagaimana pun diri pribadi adalah unit terkecil dari sebuah bangsa.

Tahu diri adalah kunci untuk mawas diri dan pada gilirannya memperbaiki diri. Tahu diri tidak dimaksudkan untuk membiarkan diri dalam berbagai keterbatasan, itu namanya rendah diri. Merendahkan diri sendiri yang sebenarnya penuh dengan berbagai potensi.

Tahu diri memicu syukur karena menyadari dan memanfaatkan secara optimal berbagai potensi diri.
Tahu diri memicu sabar karena menyadari bahwa segala terjadi menimpa diri adalah layak dan ada pelajarannya.
Tahu diri memicu Ikhlas karena menyadari segala sesuatu yang kita lakukan pun adalah dengan 'dukungan semesta'.

Tahu diri sehingga saya menuangkan tulisan ini untuk mengingatkan diri saya agar senantiasa tahu diri.

Karena Tahu Diri adalah kunci, untuk mewujud Paham Diri yang pada gilirannya Kuasai Diri.


Sabtu, 25 Januari 2014

(Puisi Berantai) Riwayat Hujan - Bagian 1

(Puisi Berantai dengan tema: Riwayat Hujan ini dibuat dengan media WhatsApp pada tanggal 21 Januari 2014)

Sore ini,
Hujan membawa cerita lagi,
terlalu sore untuk
merasa sendiri,
Sepi yang celaka
pagi telah mengacuhkan cerah dengan hujan..
Hilangkan aku dari pandangan senja
Jauh berlari, tapi senja tak henti menghampiri.
Pandangku berkelok...

Semua terlihat samar
lalu rintik mulai menggelitik
Menggelitik pada otak kosong
lebam kurasa kekosonganku
kosong tanpa cerita
Sekosong hati tanpa harapmu kembali... Hujan kini tinggallah ku sendiri
ahh, kubiarkan hujan mengisi
Mengisi kembali dengan bulir air membasahi
basah yang penuh dengan gelisah dan resah
menghibur sedikit kekacauan di otakku
Agar menguap menjadi harapan, dan menyublim menjadi kenangan

Adakah rona pipi yang kuingat kini?
Kenangan usang mana lagi yang kuingat?
Seusang aku dibalik cermin
Seperti terbetot semakin ke dalam sebelum berderak

Lalu, kesedihan mengukuhkan kesepian

Hanya rasa yang menjadi pelipur di setiap lara dari setiap perih rindu yang datang menyiksa
Tak seperti hujan yang kupandang di jendela
Aku mendeburkan rasa yang telah mengerasa tanpa pernah terasa.

Hatiku kemarau sesekali rebas hanya karena air mata, sisanya kerontang panjang.
Alah, aku bisa apa? Memandangi raut wajahmu di bingkai ini?
Tapi untuk beranjakpun aku sulit.

Lalu cumbui dinginnya hujan, yang berlari membasuh wajahmu, turun seketika menyelinap masuk
diserap bumi, hingga tanah pun menghembuskan aroma kehidupan, yang sedari dulu kurindukan.

Entah sampai kapan debar rindu akan selalu tersentak.

Entah sampai kapan rentetan keresahan yang semakin hari semakin deras
*sesak*
Demi aksara yang sempat kau jatuhi dengan anak panah yang sempurna menancap hati.
Kamu tahu? Hujan menjadi pelipurku setelah kau berlalu.

Hingga tiba hujan yang mendewasakan dan air mata menjelma mata air, lalu aku menjelma air tawa

Tawa lantas mengalir ke muara aksara
Lalu ke pusara
Hey Matahari, sore
Lalu semesta mendendangkan lagu kira
Awannya menari-nari memandangimu

Melebur menjadi satu, deru
Lagu dan tarian itu mengiringi langkah kita menuju senja..
Senja yang semakin ngehe saja tenarnya

Cukup!