Jumat, 07 November 2014

Erupsi Enggan Berhenti

Kau minta aku untuk donasi?
Aku bergegas dan layani
yang kesulitan, kesusahan, saudara-saudari
desak pemimpin negeri untuk awas dan bermurah hati



Namun tahukah kau? erupsi enggan berhenti
Sebagaimana enggan usai hati yang kerap menanti
tunggu masa depan terukir dan masa lalu terlangkahi



Namun masa depan apa yang dibentuk oleh rangkaian bencana
Ketika manusia tak pahami saat alam bicara
Lalu berspekulasi apakah hanya  fenomena
Atau ada tersembunyi, tesirat makna


Kau suruh aku berdonasi? Tak usah kau suruh pun hati yang hidup kan tergerak sendiri
Oleh erupsi yang tak kunjung berhenti
Oleh derita saudara sebangsa yang mengiris hati


Kau ajak aku berdonasi? Maka mari
Karena apalah bahagia jika tak berbagi
Maka mari
Jangan tunda lagi

(Alam telah bersuara, saatnya tindakan kita pun bicara)

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

gambar diambil dari situs: batamtoday.com, wsj.net, viva.co.id

Rabu, 10 September 2014

Bising dalam Sepi

Saat makan siang tadi bersama beberapa kolega, ada pertanyaan yang dilontarkan kepadaku: "AL lu ada rencana pengen nikah ga?" kontan aku jawab "Ya iyalah", pertanyaan pun berlanjut "Kenapa pengen nikah?". Seperti halnya pertanyaan lain yang diawali kata kenapa, jawabannya diawali dengan kata "karena" dan diikuti dengan penjabaran yang berasal dari pertimbangan berdasarkan pengetahuan, pengalaman, maupun nilai-nilai yang diyakini. Dalam konteks jawaban tadi justru kolegaku yang bertanya, menjawab: "Menikah itu biar ada teman berbagi, dan biar ga kesepian." Kolegaku yang lain setuju. Aku bertanya dalam hati: "Benarkah?"

Malam sebelumnya, 9 September 2014, aku menyaksikan sebuah pertunjukan berjudul dinding tanpa relief (review menyusul). Ada sebuah dialog menarik yang kurang lebih kutangkap bunyinya seperti: "Pada akhirnya manusia tetap tidak bisa mengalahkan kesepiannya masing-masing."

Lagi-lagi tentang kesepian. Hal yang sangat jarang sekaligus terus menerus aku rasakan.

Karena aku tumbuh sebagai anak kecil yang introvert maka sepi menjadi niscaya. Semakin dewasa semakin kuamati bahwa sepi adalah teman sejati manusia yang justru hadir yang lain meninggalkan. Namun semenjak di bangku Sekolah Menengah Pertama sepiku tak lagi terisi hampa melainkan suara.

Semakin ke sini semakin banyak suara yang mengisi kepala di saat kesepian yang tersisa. Walaupun berbeda dengan bising di kala sepi dahulu yang berisi suara serupa teriakan. Kini suara bising lebih sering merupa bisik. Bisik yang saling bertumpuk dan mengalunkan bising dalam sepi.






Jumat, 29 Agustus 2014

Derap Rindu Dalam Dekap

Saat mereka bilang rindu
Aku berteriak memanggil tandu
kugotong sendiri hati yang sendu
gagal memadu

Lalu mereka teriak rindu
Namamu berderap bagai serdadu
Berderap deras dalam dekap yang tak hendak memintal jarak hingga berarak segala, terserak semua. Berlutut pada, dan tertundukan di hadapan...

Rindu.

Sajak Datang Akhir

Kadang ada saatnya sesuatu datang
Kadang ada saatnya sesuatu berakhir

Kadang akhir saatnya datang
Kadang datang saat akhirnya

Kadang pada saatnya datang berakhir
dan pada akhir datangnya saat

Pada saatnya

Akhir datang

----------------------------------------------------------------------------------------------------
*ditulis karena terlambat hadir di peluncuran buku puisi Joko Pinurbo*

Sabtu, 21 Juni 2014

MANGAP

Bahwa sesungguhnya kehidupan dimulai ketika mata berhenti terpejam
Bukan untuk terbelalak tapi untuk menatap
Bukan sekadar bergerak, pun tak melulu menetap

Jika jantung adalah penghulu detak
Maka mulut adalah suluh ucap hingga gemeretak
Segala yang terbuka akan menutup
Seperti semua yang terlepas dan terkatup

Namun anomali adalah niscaya
Silakan saksikan sendiri maka kau akan percaya

Organ tubuh yang kerap terbuka
Menghisap berbagai entitas belaka
Memuntahkan rangkaian kata
Kadang yang termuntahkan adalah kosong
adalah melompong
adalah nisbi yang melolong

Dan Tuhan kita Yang Maha Bercanda
pernah menjelma mangapmu yang menganga
Maka wajib untukmu bersyukur karena
Mangapmu tak mengundang serangga
'tuk masuk, beranak-pinak dan berumah tangga




ALnonim

Depok, Juni 2014
*puisi untuk selvia dan dibacakan oleh @andy_adalah di Malam Puisi Depok 21 Juni 2014*

Senin, 09 Juni 2014

Satu putaran untuk Bumi

Tak hendak rangkaian kalimat ini dibuka dengan ungkapan dekat dan personal
Pun sejauh jemari mengetik belum sampai pada tatap mata dan saling kenal
Namun tak jadi soal

Karena ucapan tak melulu tentang tahun yang kabarnya berulang
Kupastikan ucapanku tentang Ibunda semesta yang penuh kasih sayang

Agar dalam dekapNya engkau semakin bijaksana, bahagia, serta penuh karya yang gemilang
Dan di atas Bumi yang berputar mengelilingi pusat tata surya, Bumi yang kau terakan dalam mengisi kolom nama pun akan diputari berbagai macam peluang
Peluang untuk bahagia ketika derita, peluang untuk tetap tersenyum walau malang melintang.

Sekian saja ucapan saat satu putaran penuh planet ketiga penuhi hajatnya pada hari lahirmu
Maka lahirlah kembali setiap hari dalam hujan inspirasi yang menderas dari penamu.

Selamat Hari Lahir Bumi
Semoga engkau tetap membumi, walau kualitasmu sedemikian melangit.

Salam

-AL-

Minggu, 01 Juni 2014

Puisi Berantai Teater Kita

Detik yang berdetak seakan menggelitik
Berlalu sedikit demi sedikit
Sedih, tawa, dan senang yang kita rasakan
Kenangan-kenangan yang tak akan terlupakan
Sesuatu yang sangat membekas
Hari di mana semua akan terpisah
Mungkin ini tak akan terulang kembali
Angin berhembus membawa masa lalu
Hal-hal konyol yang kini menjadi memori
Masa di mana kita semua bersenda gurau
Kuratapi impianku dengan bintang-bintang
Untuk menghiasi langit malam dengan harapan
Karena air mengalir membawa masa depan

-------------------------------------------------------

*masih kurang dari Putri, Azzahra, Nafisah, Abriel, Tiwi, Adena, Ino, Bunga, dan Siti.*