Rabu, 12 November 2014

(Bunyi) Enggan Sunyi

Peluh meluruh, kau mengaduh, melenguh, berterpaan berpasang-pasang tubuh, sebagian lalu seluruh.

Suara menggema memekakkan, bukan rongga telinga, tapi rongga dada, bukan suara serupa bunyi, namun parade kejayaan menuju sunyi...
  
Dan aku terjerembab di jibaku paling kini, pada jarak memaku kaki di sini, di ujung batas paparan eufoni.

Emosi bereaksi bukan pada indera namun pada realitasnya sendiri. Sehingga bunyi selembut kapas jatuh terdengar bak gemuruh gunung berapi.

Lalu Hening...
Menjadi eufoni yang paling bening
Satu per satu sahutan merdu piano hingga fortississimos bersanding
Dengan attack dan decay dalam tempo berduet dan bertanding
Dalam balutan sustain berjatahan dengan release mendentum nyaring
Lalu kau-aku menjelma flute yang ditingkahi dub-step , now step and sing!

Dan kita mencumbui bunyi-bunyi pada jalur longitudinal, mencapai ekstase pada amplitudo dan eksistensi memencar di udara.

gemuruh dan bara tetap menyala di dada
Saat bermusim-musim gelagat eksploitasi rekan sebangsa
Semakin parah, semakin buatku jengah, semakin tanpa muka
Dan kemiskinan semakin dieksploitasi angka-angka

Saat aku memekik Merdeka
Jemari berpencar menuding mereka
Ada yang bermukim di tengah kita,
Rasa nyaman pada janji yang tak kunjung nyata
Dan perjuangan yang seakan tersia-sia
Juga saat musim janji-manis-tersebar-di-udara
Lalu bunyi menghantarku menjadi penyimak Efek Rumah Kaca

"Kamu tak berubah
 Selalu mencari celah
 Lalu semakin parah
 Tak ada jalan tengah"*

Musim berubah, walau kamu tak
Tak ada yang hendak bermukim, sungguh tak
Termasuk janjimu, pada kenyataan terserak
Dan kami hanya bisa mengulum sesak dengan gigi gemeretak

#DuetPuisi - tema: Eufoni

Senin, 10 November 2014

Tuhan dan ajaran

Kupelajari Tuhan, berbuku-buku
Kudapati penyembah, berkubu-kubu
Tak jarang mengaku jalankan ajaran Tuhan
Walau di jalanan Tuhan jarang dijajar-jajar pikiran
Sekumpulan manusia membela Tuhannya
Sebagian lagi merasa Tuhan tak perlu dibela
Keduanya merasa taat ajaranNya
ajaran Tuhan yang sama, atau Tuhan yang berbeda
Bermacam-macam Tuhan. Beragam-ragam ajaran
Tuhan satu, Tuhan esa. Tapi Tuhanku dan Tuhannya berbeda.
Tuhan dari alam dan isiNya
Tuhan dari Semesta, dwimesta, bahkan bermesta-mesta realitas
Terlalu banyak Tuhan, terlalu ragam ajaran didefinisikan
Dan takkan ada segala sesuatu tanpa Tuhan menciptakan
Begitu juga tulisan ini adalah ciptaan Tuhan.
Jadi sebenarnya aku adalah...

Musim (enggan) Bermukim

Memang,
Memang aku tak lagi hendak turun ke jalan
Meneriakkan yel-yel dan caci maki pada pemerintahan


Namun gemuruh dan bara tetap menyala di dada
Saat bermusim-musim gelagat eksploitasi rekan sebangsa
Semakin parah, semakin buatku jengah, semakin tanpa muka
Dan kemiskinan semakin dieksploitasi angka-angka



Ada yang bermukim di tengah kita,
Rasa nyaman pada janji yang tak kunjung nyata
Dan perjuangan yang seakan tersia-sia
Juga saat musim janji-manis-tersebar-di-udara

"Kamu tak berubah
 Selalu mencari celah
 Lalu semakin parah
 Tak ada jalan tengah"*

Lalu musim berubah, walau kamu tak
Tak ada yang hendak bermukim, sungguh tak
Termasuk janjimu, pada kenyataan terserak
Dan kami hanya bisa mengulum sesak dengan gigi gemeretak


(*cuplikan lagu #EfekRumahKaca - Mosi Tidak Percaya | #duetPuisi)

Jumat, 07 November 2014

Erupsi Enggan Berhenti

Kau minta aku untuk donasi?
Aku bergegas dan layani
yang kesulitan, kesusahan, saudara-saudari
desak pemimpin negeri untuk awas dan bermurah hati



Namun tahukah kau? erupsi enggan berhenti
Sebagaimana enggan usai hati yang kerap menanti
tunggu masa depan terukir dan masa lalu terlangkahi



Namun masa depan apa yang dibentuk oleh rangkaian bencana
Ketika manusia tak pahami saat alam bicara
Lalu berspekulasi apakah hanya  fenomena
Atau ada tersembunyi, tesirat makna


Kau suruh aku berdonasi? Tak usah kau suruh pun hati yang hidup kan tergerak sendiri
Oleh erupsi yang tak kunjung berhenti
Oleh derita saudara sebangsa yang mengiris hati


Kau ajak aku berdonasi? Maka mari
Karena apalah bahagia jika tak berbagi
Maka mari
Jangan tunda lagi

(Alam telah bersuara, saatnya tindakan kita pun bicara)

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

gambar diambil dari situs: batamtoday.com, wsj.net, viva.co.id

Rabu, 10 September 2014

Bising dalam Sepi

Saat makan siang tadi bersama beberapa kolega, ada pertanyaan yang dilontarkan kepadaku: "AL lu ada rencana pengen nikah ga?" kontan aku jawab "Ya iyalah", pertanyaan pun berlanjut "Kenapa pengen nikah?". Seperti halnya pertanyaan lain yang diawali kata kenapa, jawabannya diawali dengan kata "karena" dan diikuti dengan penjabaran yang berasal dari pertimbangan berdasarkan pengetahuan, pengalaman, maupun nilai-nilai yang diyakini. Dalam konteks jawaban tadi justru kolegaku yang bertanya, menjawab: "Menikah itu biar ada teman berbagi, dan biar ga kesepian." Kolegaku yang lain setuju. Aku bertanya dalam hati: "Benarkah?"

Malam sebelumnya, 9 September 2014, aku menyaksikan sebuah pertunjukan berjudul dinding tanpa relief (review menyusul). Ada sebuah dialog menarik yang kurang lebih kutangkap bunyinya seperti: "Pada akhirnya manusia tetap tidak bisa mengalahkan kesepiannya masing-masing."

Lagi-lagi tentang kesepian. Hal yang sangat jarang sekaligus terus menerus aku rasakan.

Karena aku tumbuh sebagai anak kecil yang introvert maka sepi menjadi niscaya. Semakin dewasa semakin kuamati bahwa sepi adalah teman sejati manusia yang justru hadir yang lain meninggalkan. Namun semenjak di bangku Sekolah Menengah Pertama sepiku tak lagi terisi hampa melainkan suara.

Semakin ke sini semakin banyak suara yang mengisi kepala di saat kesepian yang tersisa. Walaupun berbeda dengan bising di kala sepi dahulu yang berisi suara serupa teriakan. Kini suara bising lebih sering merupa bisik. Bisik yang saling bertumpuk dan mengalunkan bising dalam sepi.






Jumat, 29 Agustus 2014

Derap Rindu Dalam Dekap

Saat mereka bilang rindu
Aku berteriak memanggil tandu
kugotong sendiri hati yang sendu
gagal memadu

Lalu mereka teriak rindu
Namamu berderap bagai serdadu
Berderap deras dalam dekap yang tak hendak memintal jarak hingga berarak segala, terserak semua. Berlutut pada, dan tertundukan di hadapan...

Rindu.

Sajak Datang Akhir

Kadang ada saatnya sesuatu datang
Kadang ada saatnya sesuatu berakhir

Kadang akhir saatnya datang
Kadang datang saat akhirnya

Kadang pada saatnya datang berakhir
dan pada akhir datangnya saat

Pada saatnya

Akhir datang

----------------------------------------------------------------------------------------------------
*ditulis karena terlambat hadir di peluncuran buku puisi Joko Pinurbo*