Senin, 21 November 2016

Tuhan ada di sini

28 Juli 2010
Tuhan ada di sini
Bukan, bukan hanya di hati
Namun di setiap milli eksistensi

Ya, Aku ada karena Dia mencipta
mencipta pikiran, hingga ku dapat berpikir bahwa aku ada

Lalu Kami bersumpah sebagai jiwa
saat raga belum lagi tercipta:
Tuhan Kami satu, Tuhan Yang Maha Esa

Lalu di persimpangan antara walau dan kalau
Yang Maha Hidup mematikan lalu menghidupkan kembali sekehendak-Nya
segala-Nya sesuai kehendak-Nya

Selasa, 20 September 2016

Spy In Love: Kisah Cinta Ala Mata-Mata

DISCLAIMER: Spoiler Alert




Kisah cinta seorang mata-mata memang selalu menarik untuk diangkat menjadi sebuah film. Namun sayangnya film Indonesia masih jarang yang mengangkat tema percintaan dengan latar belakang aksi dunia spionase. Film dari penulis naskah dan sutradara Daniel Rifki menawarkan jenis film tersebut. Film yang melibatkan pemain dan setting dari dua negara yaitu Indonesia dan Malaysia ini memang hendak mengincar penonton dari kedua negara.

Selain pemain lintas negara, film ini juga menampilkan para pemeran lintas generasi. Ray Sahetapi sebagai Satria dipasangkan dengan aktor muda yang menjanjikan Hamish Daud sebagai Putra menjadi para pemeran pria dari Indonesia. Sedangkan para aktris dari negeri jiran yang bermain dalam film ini adalah Siti Saleha sebagai Pevita dan Nasha Aziz sebagai Farida.

Film ini mengisahkan tentang sepasang kekasih berasal dari dua negara, Putra dan Pevita yang saling mencinta dan mengundang orang tua mereka ke Penang untuk meminta restu bagi pernikahan mereka. Putra mengundang Opanya, Satria. Sedangkan Pevita mengundang Mamanya, Farida.
Secara kebetulan Satria juga sedang menangani sebuah kasus yang petunjuknya mengarah kepada lokasi tempat Putra dan Farida bekerja, di Penang.

Pertemuan kedua orang tua ini tidak berlangsung dengan baik, penuh kecurigaan dan salah sangka. Kecurigaan dan salah sangka terus berlanjut sehingga kedua orang tua tersebut semakin tidak setuju dengan rencana pernikahan Putra dan Pevita. Namun ternyata penyelidikan terhadap kasus yang ditangani oleh Satria berkembang dan dia pun terjebak pada situasi yang terpaksa melibatkan Farida.

Bagaimanakah akhir dari pemecahan kasus tersebut dan nasib rencana pernikahan Putra dan Pevita? Saksikan secara lebih lengkap di layar bioskop, film ini akan tayang pada tanggal 29 September 2016.


Selasa, 13 September 2016

Little Piece Of Heaven On A Plate Of Yellow Rice

September 11, 2016

It was such a memorial day for the victims of 9/11 terrorist attack (may their soul Rest In Peace).

Somehow, the day went different for me, it was totally emotionally sweet. As the day was scheduled, bae's Mom will have a little celebration for her birthday. At first I was not invited due to humility reason, but then my fortune is on its way and I was invited by the family, they (father, brother, granny, uncle, aunt, and cousin) will be there for the celebration lunch. I was so psyched. Anticipated, yet surprised the night I was told to come for the lunch.

In the morning, I planned to go the gym, but jobs get in the way - I know it's Sunday, but holiday is only a myth. A man like me works every single day. So, while working on my job, I checked Path timeline and find out that Abang will also have an emotional meeting with his 'dad' today, I felt so excited. I sincerely prayed that things will go well today for him, and also for me.

Then it's time for me to go to the lunch in her home. I arrived on the gate when his uncle was just about to go out, so he opened the gate and let me in. Inside the yard I met her and she was so damn beautiful even without make up. She's a natural blessing. God bless her sweet face. 

I came to the house and it was empty, yet her dogs gathered in front of the door, they welcomed me. Then her father came, her mother and brother followed the appearance. We were waiting for the grandma, bae was calling her sister - she was in Sweden for her Post-Grad Study - so that she could also participate on the lunch.

Before we started eating, we prayed, we sang the birthday song and then we ate. I gave her mom a gift which my mother gave me: Kangen Water, for antiseptic, beauty and also for healthy drink. Then, we talked a lot about this Kangen Water.

The lunch was ready, home-made-natural-organic yellow rice with chicken, scramble eggs, some vegetables. The meal was simple yet it taste delicious in my mouth, it was served with the warmth of a family. Something that I haven't felt in a while. While eating we were also talking get to know her family yet also I let her family know more about me. Through that plates of yellow rice, we had conversations, her family was interesting and I had a good time with them. Then, it come the time for me to leave, but the memory of that afternoon will always stay. The memory of little heaven I found in my bruise-full-heart when I was with her and her family.


Jumat, 09 September 2016

Kedatangan

Tak semua orang suka dengan penantian. Kebanyakan orang malah membenci penantian. Mungkin karena yang dinantikan tak cukup indah untuk mengukir senyum dan memercik binar di dalam tatapan. Tak begitu denganku.

Berada dalam penantian, menunggu kedatanganmu, adalah hal yang sangat menyenangkan. Membayangkan kau masuk ke melalui pintu kaca di salah satu  lokasi waralaba terbesar di dunia lalu aku sambut dengan binar tatapan dan dengan senyum yang aku tahan. 
Membayang wajah lelahmu justru malah memicu degup di dadaku, karena dada bidangku siap menyambut sandaran letihmu. Menanti temu, setelah lebih dari 14 senja kau berada di perantauan dengan sekian banyak picu feromon yang kau lewati. 

Lalu akhirnya kau datang, waktu terhenti, detak di kiri dada melambat, dahagaku, tatapmu, genggaman tangan kita. Tiba-tiba pintu gerbang terbuka, sampailah di akhir jumpa.

Selamat malam wanita sholehah yang tertunda.



Sabtu, 27 Agustus 2016

Rantai Takdir (bagian pertama)

Januari 2015, awal dari sebuah rantai takdir mulai terjalin. 

Sebagai seorang pria penggemar Sherlock sejak 1993, melihat ada sekumpulan orang yang bersedia berkumpul merayakan kegemaran mereka kepada Dewa Detektif karya Conan Doyle mebuatku bersorak kegirangan dan tanpa pikir panjang memutuskan untuk bergabung ke dalam 'pesta' para fanatics tersebut. Acara tersebut diadakan di Conclave, Kebayoran Baru dan saya datang terlambat. 

Di tengah keterlambatan dan keterasingan saya melihat berbagai manusia dengan kostum dari karakter-karakter dalam series Sherlock dari BBC. Segera mataku berkelana melihat keriaan apa saja yang ditawarkan dalam acara tersebut. Saya melihat ada pojok meja berisi berbagai buku detektif, meja lain menjual merchandise dan gimmicks sementara di meja lain menjual topi Sherlock (hunter's hat), tanpa pikir panjang saya segera membelinya untuk kemudian berbaur dalam keriaan yang ada. 

Acara hari itu berjalan menyenangkan, namun bagian terpenting justru berada di akhir acara: hujan yang menghalangi beberapa orang untuk pulang, termasuk saya. Terhalang hujan, saya memutuskan untuk memesan kopi dan bersosialisasi, di situ saya berkenalan dengan Tamara, dari Detectives ID. Beberapa hari kemudian dia mengajak saya untuk masuk ke dalam group WhatsApp Detectives ID. Group itu menarik karena sering dibahas kasus-kasus di dunia nyata maupun dari beberapa novel misteri dan detektif. Menjelang akhir 2015, akan diadakanlah acara Indonesia Readers Festival, komunitas Detectives ID. 

Entah kenapa pada acara IRF 2015 ini saya sedemikian bersemangat sampai saya rela berkontribusi paling awal agar Detectives ID dapat menyewa booth pada acara tersebut. Ternyata di acara dua hari tersebut, tanpa disangka ada sesuatu yang penting yang akan terjadi dalam hidupku. Sesuatu yang akan menjadi awal dari bagian kedua dari tulisan Rantai Takdir ini.


Bersambung...

Kamis, 23 Juni 2016

Badai dan Bajai

Pasti berlalu, kini atau nanti
Kadang tanpa penanda, kanan atau kiri

Selepas pandang, hembus mendendang
Panas dingin, ganti bertandang
Hingga gemuruh, bermuara di ranjang

Terlalu keras
Terlalu keras
Rongrongan angin mengejan
Terlalu deras
Terlalu deras

Pengemudi menepi
Hujan tak jua henti
Mesin mati

The Stupid Son (Part One)

It was early 2000s and 1990s when I lived with my father and three of my younger brothers, after the divorce. Previously, we-the four brothers-lived with our mother until my mother decided that the kids belong to father's responsibility. 

My father and his kids move from one rented house to another. The house we rented were somehow small. Once my father rented a two kavling of 3x4 meters house and make the house connected. Another time my father rented some kind of garage house with funny airway circulation design, thus the house was always hot.

On those houses, we live with no mother, which means we take care of ourselves which means we set schedules for warming the food, cleaning the house, and we took care of our own clothes.

Somehow my younger brother, unlike me, was a popular kid which hang out with another cool kids in school. While he and his friends hang out in our home, I keep doing the housework, even if it is his turn to do the housework. Well, I did that to avoid my father's wrath upon us all (yeah, it's a wrath not just rage because it was mostly much over the top).

I was oftenly avoid having a social companion, I always went to my room to avoid conversations, especially with my father. Thus, most nights I always pretend to be asleep when my father came home after work (unless if it was friday night, because friday nights were time for WWE Smackdown!). 

On one of that night which I pretended to sleep, my father and my younger brother had a conversation about me. I did my favorite thing to do at that time, eavesdropping. 

I was always considered to be the unpopular oldest brother. I was always so quiet, having my own mind, my own world, became a social outcast and had a very bad temper. Somehow that night all those labels of mine was about to be added. 

They talked of how I, as the oldest brother, was the one who was not so bright kid among my friends and brothers. On the other hand, they were discussing of how I was the stupid son. 
I remember that the teenage me was such obedient servant to my parent and family in terms of...serving them. Thus my life and social skills were left behind. I can ride bike when I was 17. My school scores were Nobita-ish, I was too honest (because I was too affraid of Jahannam and Al Maut back then), I was sucks in sport and I was too sentimental.

Well I will never forget that night of how my father and my younger brother perceived me. I didn't care. But I do now.