Jumat, 25 April 2014

[Movie Review] TRANSCENDENCE





'TRANSCENDENCE' sebuah implementasi visual

 'COGITO ERGO SUM'


Transcendence, film teranyar yang diperankan oleh aktor idaman ribuan wanita: Johnny Depp, merupakan film yang cukup diharapkan untuk menjadi fenomenal dalam konteks filosofis maupun teologis. Namun, beberapa ulasan di website menempatkan film Transcendence sebagai film yang tidak menarik. Bahkan pada situs rottentomatoes.com , yang sering dijadikan referensi untuk melihat 'kemenarikan' sebuah film apakah film itu 'fresh' atau 'rotten', menempatkan film Transcendence ke dalam kategori 'rotten'.

Film ini memang terasa lambat dan terlalu banyak mengeksploitasi visual dalam jarak dekat dan lambat. Bagi penonton awam hal ini sangatlah membosankan, walau secara sinematografis cukup memanjakan mata.

Namun ketika saya menonton film ini dan mengonsumsi paparan transendentalisme dalam balutan teknologi, saya seketika teringat dengan kata-kata mutiara terkenal dari seorang filsuf mahsyur, Descartes: COGITO ERGO SUM; "Aku berpikir maka aku ada."

Dalam film tersebut digambarkan bagaimana 'pikiran' adalah nyawa dari kehidupan. Tentang bagaimana tubuh yang mati namun pikirannya tetap terjaga, maka manusia bisa tetap 'hidup' dan bahkan 'menghidupkan' dengan 'pikiran'. Pikiran menjadi kunci dari transedensi.

Dalam film ini juga digambarkan betapa rasa takut menjadi ibu dari kejahatan (sebagaimana dikutip dari Film Star Wars episode III: Revenge of the Sith).  Rasa takut mengilhami manusia terhadap kegiatan-kegiatan ekstrem. Bahkan karena rasa takut, sebuah organisasi (yang mengaku sebagai organisasi) kemanusiaan tega menghabisi nyawa manusia. Karena sejatinya 'manusia takut pada apa yang tidak mereka mengerti', maka dibutuhkan hati yang berani untuk menyongsong 'peradaban baru'.

Cinta yang menjadi inti dari segala konflik yang terjadi di film ini disajikan dengan manis. Kebutuhan manusia yang saling mencintai untuk saling bersama digambarkan secara mendalam. Dalam kebersamaan yang tak hanya sebatas kebersamaan fisik saja. Karena cinta itu tentang jiwa, selain tentunya proses dan reaksi kimawi dalam tubuh kita.

Banyak perdebatan tentang eksistensi jiwa. Apakah manusia benar memiliki jiwa? Atau manusia hanya makhluk mekanis yang dipermainkan dinamika reaksi kimiawi yang biasa kita kenal dengan perasaan? Jujur saya pun bingung.

Sampai suatu ketika saya mendapat jawaban bahwa: "Kita tidak memiliki jiwa, tapi kita adalah jiwa yang memiliki tubuh." Dan jika jiwa dan pikiran adalah serupa, maka saya sangat mengamini tentang COGITO ERGO SUM, Aku berpikir maka aku ada, karena mungkin: "Kita tidak punya pikiran, kita adalah pikiran yang memiliki tubuh."







Tidak ada komentar: